Cerpen
Saturday, September 1, 2007
MisteriTAK ada yang tahu ke mana perginya Seno, ketika ayahnya terbaring lemah berlumuran darah di ruang tengah rumah reot miliknya. Masyarakat kampung Palasari kembali dikejutkan kejadian serupa, setelah tujuh hari yang lalu Haji Gumira yang dikenal taat beribadah di kampung ini meninggal tragis di halaman belakang rumah gedongnya. Di atas perutnya ada bekas sabitan arit, kepalanya digorok, dan kuku jari-jari tangan-kakinya terkelupas. Hilang. Sungguh tragis dan sadis.
Pak Aji, seorang tua renta warga kampung Palasari yang selama ini hidup bersama anak tunggalnya, Seno, menjadi korban kedua pembunuhan dengan cara yang sama. Warga mulai bingung siapa aktor jahat di balik pembunuhan itu. Tidak hanya warga setempat, pihak berwajib yang menangani masalah ini juga kebingungan, tersebab pembunuh tidak meninggalkan jejak sedikit pun. Warga kampung Palasari mulai ketakutan, saling curiga satu sama lain. Terlebih kecurigaan diarahkan kepada Seno, karena dia tidak berada di TKP saat orang tuanya mati terbunuh. Tapi, apa mungkin dia tega melakukan kejahatan tersebut kepada ayahnya sendiri?
“Kendati Seno tidak berada di tempat kejadian, sebaiknya kita coba berbaik sangka dulu.” Dengan nada bijaksana pak RT berkomentar saat beberapa diantara pemuda kampung ada yang menuduh Seno melakukan perbuatan keji itu.
“Tidak hanya kepada Seno, tapi kepada sesama kita sebagai warga kampung ini harus saling berbaik sangka.” Tutur pak RT melanjutkan komentarnya.
Tak ada yang bersuara setelah pak RT berharap demikian. Warga terdiam. Mata mereka saling menatap. Mereka saling menyimpan kecurigaan mendalam. Pak RT menyudahi musyawarah dengan warga sore itu, saat matahari mulai terbenam. Adzan maghrib berkumandang.
Selepas maghrib, masjid yang terletak di tengah-tengah kampung dipadati penduduk. Malam ini pak Kepala Desa mengunjungi warga, sekedar ikut berbelasungkawa sekaligus memberikan beberapa patah kata di hadapan warga.
“Kami bersama pihak berwajib akan terus menelusuri dan menyelidiki kejadian ini sampai tuntas.” Pak Kades berusaha meyakinkan warga.
“Bapak-bapak dan ibu-ibu, sebaiknya bersikap tenang tapi tetap waspada. Dan satu yang kami tekankan, tidak menyembunyikan kecurigaan kepada siapa pun agar hubungan antar warga tetap rukun, biarlah penyelidikan kami yang menangani.” Lanjut pak Kades dengan penuh wibawa.
“Bahkan untuk beberapa hari ke depan, setiap malamnya kampung ini akan dijaga pihak berwajib agar keamanan tetap terjaga dan terkendali.” Imbuhnya kemudian.
Bukan hanya pihak berwajib yang banyak ditemui di tempat-tempat strategis kampung, setiap malam setelah kejadian mengerikan itu, jumlah piket ronda malam pun semakin bertambah. Aneh, suasana kampung masih mengerikan. Warga tidak berani keluar malam. Menakutkan. Warga masih dibingungkan dengan peristiwa amat misteri itu. Pembunuhnya sangat misterius.
“Apa mungkin di zaman yang serba modern ini masih ada manusia kanibal layaknya pembunuh itu?” Tanya Anwar kepada temannya sambil memegang kartu.
“Plak…, atau sang pembunuh sedang menjalankan ritual hitamnya?” Lanjut Anwar berseloroh sambil menjatuhkan kartu poker dari tangan kanannya.
“Kenapa harus membunuh dengan cara itu?” Yang lain menimpali.
“Kenapa jari-jari tangan-kaki korban hilang?” Tambah yang lain.
“Apa mungkin dia kembali mencari tumbal untuk memperkaya diri?” Darmo coba menjawab pertanyaan temannya.
Suasana menjadi hening, mereka yang bermain kartu sambil jaga malam di Pos Kamling seolah merasakan ketidaknyamanan dengan jawaban Darmo. Mendengar kata-kata “tumbal” membuat bulu kuduk mereka merinding ketakutan. Mereka mulai ingat kata-kata nenek moyang mereka. Setiap lima puluh tahun di kampung ini akan selalu ada kejadian aneh.
“Sudah-sudah, ngobrol yang lain saja biar suasana nggak menakutkan kayak gini.” Anwar memecah keheningan.
“Iya, kita teruskan mainnya.” Darmo berseloroh sambil menjatuhkan kartu king miliknya, lalu menyeruput kopi hangat yang ada di sampingnya. Mereka melanjutkan permainan.
Malam pekat. Angin dingin menusuk. Lolongan anjing meraung lirih terdengar dari arah selatan kampung. Bulan tak bergairah memantulkan cahaya. Pun bintang sama sekali tak terlihat gemerlap. Kabut malam lama-lama menebal. Dingin semakin menggigil. Bulan mulai redup sinarnya. Ia bersembunyi di balik awan kelabu. Tak biasanya malam-malam di kampung ini sedemikian kelam seperti malam itu. Mendung menyelimuti langit, tapi hujan tak juga turun. Hanya senyap. Kelam.
Mereka, para ronda malam, menyalakan api unggun berusaha menghangatkan suasana. Rasanya nyaman duduk-duduk di dekat api sekedar menghangatkan tubuh, tentunya sambil terus bermain kartu.
Di rumah pak Aji yang masih dijaga pihak berwajib, terdengar isak tangis seorang pria. Lamat-lamat isakan itu semakin mengeras. Menjerit. “Au...!”
Dua orang berseragam polisi lari menuju ke arah jeritan itu. Sedang dua orang lainnya tetap sigap di depan rumah dipan pak Aji yang tak berhalaman.
Perlahan dua polisi itu membuka pintu rumah pak Aji yang tak terkunci. Menyenter sudut-sudut ruang di dalamnya. Nihil, mereka tidak menemukan apa-apa kecuali tikus yang mulai berkeliaran bebas. Aneh. Lantas suara teriakan tadi? Makhluk haluskah? Mungkin.
Mereka, para polisi itu, kembali berjaga-jaga seperti semula. Tak menghiraukan kejadian aneh yang baru saja terjadi. Di kampung ini, mereka sudah terbiasa dengan hal-hal seperti itu. Mistik.
***
Pagi menjelang. Siang mulai menyapa. Sinar mentari amat menyejukkan seolah menghapus suasana tadi malam. Warga mulai melakukan aktifitas seperti biasa. Ada yang pergi bertani, berangkat ke pasar, ke pabrik, dan lain-lain. Tapi, ada juga yang pengangguran. Termasuk Darmo, salah seorang piket ronda tadi malam. Darmo tidak punya pekerjaan tetap. Bukan berarti dia tak punya keahlian atau malas menghidupi diri sendiri. Tapi nampaknya dia memilih jalan hidup lain, setelah beberapa bulan yang lalu warung kopinya digarong orang tak bertanggungjawab.
Biasanya, untuk mengisi hari-hari kosongnya, Darmo sering berdiam diri di mesjid dekat rumahnya. Meski pengangguran, tapi dia sosok pemuda kampung yang taat beribadah dan gemar membantu sesama. Sepeninggal pak Aji, Darmo lah yang kerap mengurusi mesjid dan bertindak sebagai muadzin mesjid kampung.
***
Di sawah, di pasar, di pabrik-pabrik, di warung-warung, orang-orang ramai membincangkan peristiwa mengerikan di kampung Palasari. Pembunuhan itu menyebar kemana-mana. Mereka, selain sibuk dengan aktifitasnya masing-masing, mulut-mulutnya tak berhenti membicarakan kejadian itu.
Empat belas hari berlalu dari kematian Haji Gumira. Tujuh hari berlalu pak Aji meninggal tragis. Tak ada kabar mengenai dalang di balik peristiwa itu. Seno, anak semata wayang pak Aji masih dalam tahap pencarian. Ia menghilang. Raib entah kemana. Warga masih resah. Mereka mulai khawatir akan ada korban ketiga.
“Padahal Haji Gumira dan pak Aji adalah warga yang hubungan sosialnya baik. Spiritualnya pun bagus, tingkah polahnya dinilai baik di mata warga. Kenapa mati mengenaskan?” sambil mamanggul sekarung padi, Anwar bertanya kepada teman di sampingnya.
“Namanya juga nasib, War, semua sudah diatur Gusti Pangeran.” Temannya menjawab.
“Apa benar yang dikatakan Darmo tadi malam, ada yang mencari tumbal. Dan sasarannya adalah orang-orang yang dinilai taat itu…” Hati Anwar membatin, sementara dia masih dengan panggulannya.
“War, kenapa diam?” Sambil menepuk pundak, temannya membuyarkan pikiran Anwar.
“Saya duluan ya, kamu nggak mampir dulu?” Lanjut temannya kemudian.
“Nggak, matur nuwun kapan-kapan saja, aku masih ada pekerjaan yang harus diselesaikan.” Jawab Anwar menjelaskan.
Sambil memanggul sekarung padi hasil panennya, Anwar terus berjalan menuju rumah tempat tinggalnya. “Tak terasa hari sudah sore.” Anwar kembali membatin, ada nuansa resah yang timbul dari wajah kelunya.
***
Senja memerah. Matahari mulai turun tenggelam ke peraduannya. Remang-remang bulan agak terlihat di atas langit kampung Palasari. Anak-anak gembala yang masih dekil buru-buru dipanggil orang tua mereka untuk segera pulang. Jendela-jendela rumah mulai ditutup rapat penghuninya. Malam pun merayap gelap.
Di rumah yang berdinding tembok, yang bangunannya masih belum sempurna. Anwar duduk termenung di depan tv 14 inchi. Di rumah itu Anwar tinggal bersama istri dan dua orang anaknya. Entah apa yang dipikirkan Anwar, sejak dia ingat kata-kata Darmo tadi malam. Kata-kata “tumbal”. Dia mengerutkan kening. Sesekali bibirnya bergetar, berucap lirih. Astaghfirullah. Anwar pun tahu dari cerita nenek moyangnya. Lima puluh tahun yang lalu telah terjadi kasus serupa. “Apakah benar ada yang mencari tumbal?” Batin Anwar bergumam. Seperti cerita dalam film detektif, dia berfikir keras. Menyesuaikan ciri-ciri dua kasus pembunuhan itu. Dalam pikirannya timbul beberapa pertanyaan.
“Kenapa korbannya sama-sama lanjut usia dan taat beribadah?”
“Kenapa perut mereka harus ditusuk arit, leher digorok, dan kuku terkelupas?”
“Kenapa Seno tidak berada di tempat kejadian saat ayahnya jadi korban tumbal?”
Dan Anwar terus bertanya kepada dirinya sendiri. Mengharap ada jawaban yang terlintas dalam alam bawah sadarnya. Anwar terdiam. Cukup lama.
Malam ini malam kedelapan sepeninggal pak Aji.
Barulah Anwar sadar, bahwa Darmo adalah satu-satunya orang yang tahu seluk-beluk kisah tumbal lima puluh tahun lalu. Karena Darmo dekat dengan mbah Suji, seorang penjaga gunung Gede. Jaraknya sekitar 1 km dari kampung Palasari. Mbah Suji pula satu-satunya kunci yang mengetahui kisah mengerikan itu.
Tanpa pikir panjang Anwar beranjak dari tempat duduknya. Dia bergegas membuka daun pintu. Saat istrinya bertanya, “mau kemana?” Dia bilang, “aku keluar sebentar, jaga anak kita baik-baik.” Terburu-buru dia menjawab pertanyaan istrinya, lalu keluar rumah malam itu.
Tidak seperti malam kemarin, suasana malam ini laiknya malam-malam setengah bulan yang lalu, tepatnya sebelum peristiwa tragis yang menewaskan Haji Gumira terjadi. Seolah tenang seperti sediakala. Hanya perasaan takut yang masih menguasai batin Anwar. Entahlah, dia masih khawatir akan ada korban tumbal berikutnya.
Anwar mempercepat langkahnya, dia menuju ke arah mesjid yang terletak di tengah-tengah kampung. Dia tahu rutinitas yang sering dilakukan Darmo beberapa minggu terakhir sebelum jam dua belas malam adalah bersila. Darmo rajin berdzikir di mesjid itu.
Sesampainya di halaman depan mesjid, Anwar terdiam sejenak. Menghentikan langkahnya. Dia mencium bau busuk di sekitar mesjid. Tapi tak dihiraukannya bau busuk yang sebenarnya amat menusuk hidungnya itu. Anwar mulai melangkah di atas teras mesjid. Dia membuka daun pintu secara perlahan. Dan masuk mesjid.
Di sana dia benar-benar menemukan Darmo sedang bersila ditemani satu orang tua renta. Mereka berdua nampak khusu’ dalam kesyahduan spiritual yang mendamaikan. Belum sempat Anwar menyapa mereka, Darmo tiba-tiba membuka percakapan.
“War, saya tahu kamu akan datang kemari, dan kebetulan juga mbah Suji ada di sini.”
“Maaf, Mo, bila kehadiranku kemari membuyarkan konsentrasimu dalam meditasi.” Anwar menanggapi kata-kata Darmo, sambil menatap santun ke arah lelaki tua di samping Darmo yang ternyata adalah mbah Suji.
“Nggak apa-apa, justru kami menunggu kedatanganmu, War.” Darmo berujar akrab, dan mempersilahkan Anwar duduk.
”Mbah, ini Anwar kawanku yang selama ini berusaha memecah teka-teki kasus pembunuhan itu.” Darmo berkata kepada mbah Suji, mbah Suji lalu menatap Anwar dalam-dalam, tapi dengan mimik wajah yang seolah-olah sudah mengenali pria beranak dua itu. Senyum mbah Suji sedikit mengembang.
“Nak Anwar, kisah yang akan mbah ceritakan ini tolong disimpan. Cukup hatimu saja yang tahu.” Tanpa pikir panjang, lalu mbah Suji mulai bercerita.
“Nak, mistik di kampung ini sangat kuat. Dan benar apa yang dikatakan Darmo tempo hari, bahwa rentetan peristiwa itu adalah tumbal. Tapi bukan dilakukan oleh seseorang yang ingin memperkaya diri.”
“Benar pula warisan cerita nenek moyang itu, setiap lima puluh tahun akan terjadi peristiwa aneh di kampung ini.” Mbah Suji bertutur mengalir, dia coba memutar rekaman peristiwa lama yang ada dalam memorinya.
“Dan korban tumbal selalu tiga orang, terjadi tujuh hari beruntun.” Lanjut mbah Suji, kini dengan nada suara yang dibisikkan. Mata Anwar dan Darmo saling menatap heran.
“Berarti korban tinggal satu orang lagi?!” Darmo dan Anwar berucap hampir berbarengan penuh tanya.
“Korban tumbal sudah genap tiga orang.” Jawab mbah Suji enteng.
“Hah…!” Mata kedua pria yang ada di hadapan mbah Suji terbelalak kaget, raut wajah mereka menampakkan kegelisahan. Tentu dengan menyimpan berjuta-juta pertanyaan di kepala mereka.
“Lantas siapa yang melakukannya, mbah?” Anwar bertanya. Dahinya mengerut.
“Tidak ada yang melakukannya, pembunuhan itu terjadi secara misterius.” Jawaban mbah Suji membuat Anwar dan Darmo tambah heran. Mereka masih bertanya-tanya.
“Maksud, mbah?” Darmo mendesak mbah Suji.
“Memang sulit dipercaya, anakku, mbah sendiri belum tahu jawabannya. Mbah hanya percaya takdir Gusti Pangeran, semua sudah diatur oleh-Nya.” Kini mata mbah Suji mulai berkaca-kaca. Wajah keriputnya mengalirkan kesedihan. Mereka saling membisu, mencari jawaban sendiri-sendiri.
“Jika tumbal itu tidak dilakukan oleh manusia, mungkinkah makhluk halus kampung Palasari yang melakukannya? Karena mistik di kampung ini sangat kuat.” Darmo membatin dalam kebisuannya.
***
Pagi menjelang. Kampung Palasari kembali geger. Salah satu warganya ditemukan tewas mengenaskan. Di atas perutnya ada bekas sabitan arit, kepalanya digorok, dan kuku jari-jari tangan-kakinya terkelupas. Hilang. Sungguh tragis dan sadis.
Tubuh Seno berbujur kaku, di semak-semak belukar belakang mesjid kampung Palasari. Ia mati. Menjadi tumbal misteri.
Kairo, 28 April 2007 M.
--ruangimaji--
Cerita Pendek
posted by Falahuddin Qudsi @ 6:03 PM,
,